<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Starting up again</title>
	<atom:link href="http://www.mapkibera.org/blog/2010/02/17/starting-up-again/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.mapkibera.org/blog/2010/02/17/starting-up-again/</link>
	<description>Blogging the First Open Map of Kibera</description>
	<lastBuildDate>Mon, 30 Jan 2012 16:17:00 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3</generator>
	<item>
		<title>By: Global Voices dalam bahasa Indonesia &#187; Tinjauan Proyek Technology for Transparency, Bagian I</title>
		<link>http://www.mapkibera.org/blog/2010/02/17/starting-up-again/comment-page-1/#comment-314</link>
		<dc:creator>Global Voices dalam bahasa Indonesia &#187; Tinjauan Proyek Technology for Transparency, Bagian I</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 14 Apr 2010 11:03:58 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.mapkibera.org/blog/?p=103#comment-314</guid>
		<description>[...] Cara kita mengatur lahan, manusia, sumber daya, perumahan, dan bisnis dari komunitas kita bergantung pada persepsi kita terhadap ruang fisik yang mereka tinggali. “Sejarah Kibera, daerah kumuh di Nairobi, Kenya, bermula sejak Perang Dunia Pertama,”tulis Rebekah Heacock, ketika “pemerintah kolonial memberikan lahan suburban bagi para prajurit Kenya yang baru kembali dari peperangan. Sesudah kemerdekaan Kenya pada 1963, kebijakan tanah yang baru membuat Kibera menjadi pemukiman ilegal. Walaupun begitu, area itu terus berkembang. Ini sekarang ditinggali sebanyak 1,2 juta orang dan diperhitungkan secara luas akan menjadi pemukiman kumuh terbesar di Afrika.” tapi sampai baru-baru ini Kibera adalah secara umum “titik kosong di peta Kenya” dan organisasi-organisasi penolong di daerah itu tidak berbagi informasi satu sama lain atau komunitas secara umum. Peta Kibera, sebuah proyek yang dimulai oleh Erica Hagen dan Mikel Maron dari Peta Jalan Terbuka, menargetkan untuk merubah kecenderungan ini dengan membuat penduduk Kibera untuk lebih terlibat dalam pembuatan pemetaan dari komunitas-komunitas mereka sendiri dan menerbitkan informasi dan berita mengenai infrastruktur dan pelayanan yang tersedia dan dibutuhkan. Penduduk Kibera Douglas Namale berkata dalam sebuah video yang dipublikasikan bersama sebuah studi kasus bahwa departemen perencanaan secara historis tidak memiliki informasi geografis yang memadai mengenai Kibera merupakan penyebab pelayanan-pelayanan sanitasi yang buruk. Peta Kolaborasi dari Kibera telah diintegrasikan kedalam berbasis-Ushahidi Suara Kibera, sebuah website yang mengikuti berita dari Kibera dan meletakkannya di dalam sebuah antar muka peta. Pembaca dapat berlangganan untuk berita terbaru via pesan teks dan/atau surat elektronik. Hagen dan Maron – dua-duanya orang Amerika – berkomitmen untuk tinggal di Kenya sampai paling tidak Agustus, tapi mereka mengenali seberapa pentingnya perhatian jangka panjang sampai proyek itu menjadi berkelanjutan dan s.... [...]</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>[...] Cara kita mengatur lahan, manusia, sumber daya, perumahan, dan bisnis dari komunitas kita bergantung pada persepsi kita terhadap ruang fisik yang mereka tinggali. “Sejarah Kibera, daerah kumuh di Nairobi, Kenya, bermula sejak Perang Dunia Pertama,”tulis Rebekah Heacock, ketika “pemerintah kolonial memberikan lahan suburban bagi para prajurit Kenya yang baru kembali dari peperangan. Sesudah kemerdekaan Kenya pada 1963, kebijakan tanah yang baru membuat Kibera menjadi pemukiman ilegal. Walaupun begitu, area itu terus berkembang. Ini sekarang ditinggali sebanyak 1,2 juta orang dan diperhitungkan secara luas akan menjadi pemukiman kumuh terbesar di Afrika.” tapi sampai baru-baru ini Kibera adalah secara umum “titik kosong di peta Kenya” dan organisasi-organisasi penolong di daerah itu tidak berbagi informasi satu sama lain atau komunitas secara umum. Peta Kibera, sebuah proyek yang dimulai oleh Erica Hagen dan Mikel Maron dari Peta Jalan Terbuka, menargetkan untuk merubah kecenderungan ini dengan membuat penduduk Kibera untuk lebih terlibat dalam pembuatan pemetaan dari komunitas-komunitas mereka sendiri dan menerbitkan informasi dan berita mengenai infrastruktur dan pelayanan yang tersedia dan dibutuhkan. Penduduk Kibera Douglas Namale berkata dalam sebuah video yang dipublikasikan bersama sebuah studi kasus bahwa departemen perencanaan secara historis tidak memiliki informasi geografis yang memadai mengenai Kibera merupakan penyebab pelayanan-pelayanan sanitasi yang buruk. Peta Kolaborasi dari Kibera telah diintegrasikan kedalam berbasis-Ushahidi Suara Kibera, sebuah website yang mengikuti berita dari Kibera dan meletakkannya di dalam sebuah antar muka peta. Pembaca dapat berlangganan untuk berita terbaru via pesan teks dan/atau surat elektronik. Hagen dan Maron – dua-duanya orang Amerika – berkomitmen untuk tinggal di Kenya sampai paling tidak Agustus, tapi mereka mengenali seberapa pentingnya perhatian jangka panjang sampai proyek itu menjadi berkelanjutan dan s&#8230;. [...]</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Time is Curious</title>
		<link>http://www.mapkibera.org/blog/2010/02/17/starting-up-again/comment-page-1/#comment-269</link>
		<dc:creator>Time is Curious</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 24 Mar 2010 10:03:04 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.mapkibera.org/blog/?p=103#comment-269</guid>
		<description>[...] project itself has had some video coverage during a great visit by Ory, and later on by Ben from Hivos. Later today we host a visit from the Acumen [...]</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>[...] project itself has had some video coverage during a great visit by Ory, and later on by Ben from Hivos. Later today we host a visit from the Acumen [...]</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>

